5 Cara Pinjaman Darurat Biar Gak Bikin Hidup Melarat


Beberapa waktu lalu saya melihat video Youtube dan muncul iklan mengenai pinjaman darurat online. Iklannya macam-macam, umumnya menawarkan langsung cair hanya bermodalkan KTP. Sebelumnya, saya juga pernah mengunjungi salah satu situs e-commerce terbesar di Indonesia dan menemukan sebuah layanan dana instan yang setelah saya pahami banyak digunakan orang dalam keadaan terdesak.

Dari berbagai literatur yang saya pelajari, sebenarnya dana darurat itu wajib dan sangat penting dialokasikan setiap bulan oleh sebuah keluarga dari penghasilan yang ada. Hanya saja dalam kenyataan di lapangan, sebagian besar masyarakat tidak punya tabungan ini. Penyebabnya macam-macam seperti tidak pintar mengelola keuangan, ketidaktahuan atau karena gaji kecil hingga tidak cukup memenuhi kebutuhan. 

Dalam keadaan seperti ini, biasanya orang mengandalkan pinjaman dari pihak lain. Ya, berhutang. Sayangnya, berawal dari kepepet, tak sedikit konsumen yang malah terjebak dalam hutang tak berujung. Niat awal mencari hutang buat mengatasi keadaan mendesak tapi kok malah masalah keuangan makin berat dan hidup jadi melarat. Meski lagi kesulitan ekonomi, sebagai konsumen kita tetap harus mawas diri. Tidak asal dapat solusi biar tidak bikin hidup makin merugi. Saya sangat prihatin dengan kejadian ini karena pernah mengalami.  Menurut hemat saya, agar hal tersebut tidak terjadi ada beberapa trik yang bisa digunakan yaitu : 


1. Pinjam aset pribadi atau keluarga sendiri

Trik pertama adalah cek apa saja daftar aset yang teman-teman dan keluarga punya. Suami, isteri serta anak-anak mungkin memiliki sesuatu yang bernilai ekonomi. Daripada meminjam pada pihak lain, lebih baik menggunakan aset milik sendiri. Tidak perlu berhutang pada orang. Meski memakai aset, bisa juga atas nama hutang dimana diniatkan bila kondisi ekonomi sudah pulih akan dibayar kembali. 

Dalam hal ini, bisa menjual kendaraan, tanah, rumah, saham jika kebutuhan dana dalam keadaan darurat tersebut tergolong besar. Jika tidak nominalnya tidak seberapa, bisa dengan menjual perhiasan seperti kalung, cincin, gelang, jam tangan branded dan lainnya.  Agar tidak melakukan kesalahan, juallah sesuai dengan kebutuhan. Kalau berlebih takutnya nanti jadi habis dan menguap sehingga aset kamu hilang untuk yang kurang dibutuhkan.

Sebagian orang memilih layanan hutang lembaga peminjaman karena takut tidak bisa mengembalikan asetnya dalam bentuk semula. Takut kekayaan habis tidak kembali. Alternatif lain selain menjual adalah menggadaikan. Jadi, perhiasan tidak perlu dijual. Kalau hutang di pegadaian lunas maka perhiasan bisa dimiliki kembali. Kamu hanya dikenakan biaya administrasi sekitar Rp 15.000 dan biaya penitipan sekitar Rp.15.000. Biaya penitipan berubah-rubah tergantung berapa lama kamu menitipkan perhiasan. Beban di  pegadaian tergolong jauh lebih murah dibandingkan pinjaman online yang bunganya sampai 20 %. 


2. Pinjam saudara dan keluarga besar 

Jika trik yang pertama gagal alias tidak punya apa-apa yang bisa dijual atau digadaikan, maka langkah berikutnya mencoba bicara dengan kakak adik, orang tua atau pun tante, om, paman dan lainnya. Perhatikan siapa saja diantara mereka yang kira-kira memiliki uang simpanan yang tidak sedang digunakan. Terlebih saudara yang dikenal sukses dan tergolong kaya. Daripada orang lain mengetahui masalah keuangan kita, lebih baik keluarga yang tahu. 

Keluarga adalah tempat berbagi suka duka. Jadi, tidak perlu malu memberitahu kendala yang dihadapi. Apalagi kalau selama ini jarang sekali kamu mengeluh dan minta tolong kepada saudara. Biasanya jika punya uang, keluarga tidak tinggal diam dan mengupayakan apa yang bisa mereka bantu untuk anggota keluarganya yang lagi ada masalah. Semuanya berdasar semangat persaudaraan dan pertalian darah, bukan karena udang di balik batu. 


3. Pinjam teman kepercayaan

Jika kamu tipikal yang paling anti dan gengsi bila keluarga mengetahui masalah hidup kamu, mungkin kamu lebih nyaman meminjam kepada sahabat dekat. Kala teman tersebut memiliki uang dan benar-benar bisa dipercaya, maka hal ini juga tidak masalah. Asalkan transaksi pinjam meminjam ini jelas jumlah dan kapan waktu pelunasan. Tidak merugikan salah satu pihak. Khawatirnya, pinjaman ini bisa merusak perteman baik yang telah lama dibina. 

Tidak sedikit persahabatan yang hancur gara-gara uang. Teman yang awalnya sangat dipercaya, kemudian berkeluh kesah di media sosial soal urusan pinjam meminjam ini sehingga banyak orang yang mengetahui. Tentu saja kamu akan malu mengalami hal ini. Jadi, sebaiknya sangat berhati-hati dalam memilih teman untuk mengadu. Biasanya, teman senasib seperjuanganlah yang paling memahami kondisi kita karena dia pun pernah berada di situasi yang sama. 


4. Pinjam ke atasan tempat kerja

Jika trik 1-3 tidak bisa membantu, cara berikutnya adalah bicara dengan pihak tempat kamu bekerja. Ini kalau kamu bekerja dengan swasta. Mengapa mengadu ke atasan? Karena hal ini terkait dengan gaji. Ya, kamu minta tolong kepada bos dengan catatan pembayaran melalui pemotongan gaji setiap bulan. Terlebih jika kamu yang telah lama bekerja dan berdedikasi penuh pada perusahaan, mungkin kesempatan untuk mendapatkan pinjaman lebih besar. 

Memang ini terdengar agak konyol tapi saya menulisnya karena pernah ada yang mengalaminya. Hanya saja, harus lihat-lihat dulu apakah bos kamu orang yang simpati dan ramah atau sebaliknya. Ada pimpinan yang pernah hidup susah, jadi dia memahami kesulitan orang. Sebaliknya, ada pimpinan yang profit oriented, pelit dan tidak peduli dengan kesusahan orang lain. Mengganggap masalah pribadi tidak berhubungan dengan dunia kerja. 

Dengan cara seperti ini, kamu mendapatkan solusi tanpa perlu membayar denda ataupun bunga pinjaman. Oya, untuk skala perusahaan yang besar biasanya juga ada disediakan koperasi simpan pinjam khusus karyawan. Coba caritahu apakah di perusahaan tempat kamu bekerja juga ada. Biasanya karena terkait dengan karyawan, bunga dan denda yang dibebankan tidaklah sebesar lembaga pinjaman lain. 


5. Pinjaman uang offline & online bunga rendah

Saya menempatkan pinjaman uang pada lembaga keuangan seperti bank dan non perbankan sebagai solusi terakhir. Bila sudah berhubungan dengan lembaga keuangan artinya kamu harus siap membayar administrasi, bunga dan denda. Oleh karena itu, pada poin ini saya garisbawahi lagi, solusi terakhir ini harus memenuhi kriteria : bunga, administrasi dan denda yang rendah. Mengapa saya mengatakan kredit bunga rendah kok tidak pinjaman online tanpa bunga? Untuk menjawab ini saya sudah menulisnya di artikel berbeda ya. 

Teman-teman sebaiknya jangan tergiur dan salah ambil langkah. meskipun kepepet, otak kita tidak boleh mampet. Jangan asal proses mudah tanpa jaminan lalu langsung sikat. Teliti dulu berapa bunganya, denda dan lama waktu. Apakah benar-benar murah atau klaim murah sebagai topeng tipuan belaka. 

Menjamurnya fintech akhir-akhir ini tidak bisa ditelan bulat-bulat mentah melainkan harus diteliti dulu. Saya menemukan ada pinjaman dana cepat cair yang diklaim sebagai solusi dalam terdesak tapi nyatanya bunganya sangat gila. Tidak masuk akal. Pihak penyedia seolah-olah memanfaatkan situasi untuk mengeruk keuntungan pribadi. Sekilas terlihat tujuannya mulia tapi sebenarnya sangat merugikan. Ini yang membuat orang miskin makin miskin, orang kaya makin kaya. Dalam hal ini jika teman-teman terpaksa harus memakai cara terakhir ini, saya membagi saran saya berdasarkan jenis atau kategori kebutuhan :


a. Jika kebutuhan darurat teman-teman berupa produk atau barang baik fisik nonfisik bisa menggunakan layanan Paylater. Yaitu semacam layanan pinjaman untuk belanja secara cicilan tanpa kartu kredit. Konsumen bisa belanja dulu sekarang dan bayar nanti. Meski layanan ini memiliki kelebihan dan kekurangan tapi bisa dimanfaatkan dalam keadaan darurat. Saran saya, karena fitur ini sangat mudah jangan sampai kalap belanja. Pakai sesuai kebutuhan saja. Misalnya, Shopeepaylater yang hanya mengambil bunga 1 % untuk setiap transaksi dan tidak ada biaya administrasi.

b. Jika kebutuhan terdesak berupa dana segar terkait modal usaha, pilihlah bantuan pinjaman khusus untuk bisnis. Bukan kredit untuk konsumsi. Mengapa? Karena tingkat bunga pinjaman antara modal usaha dan konsumsi umumnya berbeda. Bantuan modal usaha saat ini sudah banyak ditujukan untuk pengembangan UMKM sehingga fintech menetapkan bunga tergolong rendah dan tidak begitu memberatkan. Misalnya, pengalaman saya pernah mengajukan pinjaman modal online tanpa jaminan di salah satu e-commerce dimana bunganya 1.59 % flat. Menurut hemat saya ini jauh lebih rendah daripada menggunakan pinjaman darurat instan online sebagai modal yang bunganya rata-rata di atas 10 %. 

c. Jika kebutuhan dana segar untuk pembayaran pendidikan, tagihan dan sewa, pilihlah pinjaman dana tunai dengan bunga rendah. Apa lembaganya? Banyak pilihannya. Saran saya agar teman-teman membandingkan dulu antar lembaga pinjaman tersebut mana yang paling ringan bunganya. 


***


Sekali lagi, sebaiknya, pinjaman darurat kepada pihak bank dan fintech adalah pilihan paling terakhir. Sekali-kali boleh dijadikan solusi tapi jangan sampai jadi kebiasaan karena bisa menyebabkan beban hutang bertambah. Jangan sampai "sudah jatuh dan tertimpa tangga pula". Oleh karena itu, saya sarankan buat teman-teman, mulailah praktik mengumpulkan dana darurat. Tidak peduli berapapun jumlahnya. Meski kecil tidak apa, hal utama adalah konsisten. Ini juga reminder buat diri saya sendiri. 

Persentase yang disarankan para ahli keuangan dalam menabung dana darurat macam-macam, ada yang 5 % dan ada 10 %.  Dengan memiliki tabungan untuk berjaga-jaga. Manakala terjadi hal yang tidak diharapkan, krisis atau dalam keadaan kepepet, maka dana tersebut bisa diambil. Keluarga kita tidak perlu bingung dan tidak perlu terjebak hutang baru karena sudah punya simpanan uang untuk hal tak terduga tersebut. 

***

Terakhir, semoga artikel ini bisa menjadi pertimbangan dan bermanfaat buat teman-teman. Mari menjadi konsumen cermat dan belajar membuat keputusan tepat meski sedang dituntut gerak cepat memenuhi kebutuhan darurat. []