[Konsumen Online Wajib Baca] 13 Cara dan Strategi Melindungi Diri Agar Tidak Menjadi Korban Penipuan Belanja Online


Pencegahan Penipuan, Penipuan, Korupsi


Cara belanja online aman agar tidak kena tipu atau cara supaya tidak tertipu online shop perlu diketahui oleh setiap konsumen. Menurut saya, belanja secara daring saat ini bagaimana pisau bermata dua. Satu sisi saya merasa sangat senang karena menawarkan efisiensi dan efektifitas luar biasa terlebih pada masa pandemi alias #dirumahsaja. Di sisi lain, setiap aktifitas yang saya lakukan secara online seperti selalu dibayang-bayangi oleh gelapnya kejahatan siber. 



Fakta bahwa para scammer saat ini semakin lihai dan licik memeras uang korban memang semakin menggelitik nurani dan membuat bulu kuduk merinding. Namun, berhenti total belanja online karena takut dengan kasus penipuan bukanlah solusi. Bagaimanapun, kejahatan akan terus ada seiring dengan kehidupan. Modus yang dipakai oknum dalam menipu memang beragam dan kadang sulit terdeteksi, tetapi bukan berarti sebagai konsumen kita hanya mampu berdiam diri. 



Ingatlah, sebuah kejahatan terjadi disebabkan adanya sebuah peluang yang mendukung terjadinya. Seperti yang dikatakan Bang Napi, “kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelaku tapi juga karena ada kesempatan!”. Saatnya konsumen unjuk gigi. Solusi terbaik mengatasi penipuan adalah dengan menutup peluang tersebut, tidak memberikan kesempatan kepada pencuri. Berusaha aktif melindungi diri sendiri, lebih waspada dan hati-hati baik ketika bertransaksi atau pun tidak. Bagaimana caranya?



1. Jangan mau kirim barang duluan tanpa adanya transfer

Percayakah kamu kalau penjual juga sering menjadi target penipuan oleh oknum yang menyamar menjadi pembeli. So, pembeli yang ada sekarang tidaklah real 100 % berniat membeli, ada pembeli palsu mengincar harta kamu. 

Tips pertama, jangan sekali-kali mengirim produk jika belum ada transfer dari si pembeli. Bukan hanya penjual yang harus amanah, pembeli pun harus disaring mana yang amanah. Kecuali kamu menyediakan layanan COD atau boleh bayar tunai di tempat saat barang diantar kurir ke alamat. Menggunakan COD, kemungkinan celah penipuan ini kecil. 



2. Tidak terbujuk melakukan transaksi diluar marketplace

Mau atau terbujuk rayu melakukan transaksi di luar e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, Bukalapak, Lazada dan lainnya berarti membuka peluang terjadinya kejahatan siber. Logikanya, jika penjual atau pembeli berniat baik mengapa mengajak bertransaksi langsung tanpa fitur rekening bersama. Marketplace sengaja menyediakan layanan rekber atau dana ditahan sementara sampai pembeli menerima produk demi keamanan kedua belah pihak. Penjual yang mengajak langkah “tidak biasa”, harus dicurigai dan dipertanyakan. 



3. Cari penjual yang amanah

Jika penjual zaman sekarang disarankan mencari pembeli yang amanah, pembeli pun demikian harus bisa menemukan seller yang jujur dalam berdagang. Penjual yang apa adanya dalam menjelaskan produk sesuai dengan kualitas dan mengirimkan pesanan sesuai dengan kuantitas. Tidak main ganti sendiri seenak jidat tanpa persetujuan pembeli kecuali sudah ada perjanjian di awal. Penjual nakal ini yang sering ditakuti oleh pembeli pemula. Oleh karena itu, penting untuk mengeliminasi para penjual yang ada di e-commerce dengan cara membandingkan review masing-masing toko sebelum menjatuhkan pilihan. 



4. Pastikan kamu sudah membaca deskripsi produk sebelum membeli

Sebagian pembeli merasa tertipu lantaran karena langsung membeli begitu saja tanpa membaca deskripsi produk terlebih dahulu. Penjual yang bertanggungjawab biasanya menjelaskan tentang barang sedetail mungkin di kolom deskripsi. Termasuk ketentuan pembelian, proses packing dan pengiriman. Penjual memiliki hak untuk membuat sejumlah aturan sesuai dengan kebutuhan mereka. Baik pembeli membaca atau tidak membaca ketentuan tersebut, jika sudah membuat order artinya pembeli setuju. Nah, agar tidak merasa tertipu, hindari tergesa-gesa dalam belanja. Sebaliknya, sediakan waktu yang cukup sehingga bisa dengan tenang membeli suatu produk. 



5. Jaga kerahasiaan username dan sandi akun

Tips kelima ini paling sering kita dengar dan jumpai ketika berselancar di internet. Semua akun dan password perlu dijaga kerahasiaannya, tidak hanya akun di e-commerce tetapi juga akun-akun media sosial yang kamu punya. Sekilas memang terlihat tidak ada hubungan antara akun di toko online dengan media sosial tetapi bagi penjahat ini menjadi penting. Mereka bisa menghubungkan keduanya ketika ingin mencuri data-data pribadi kamu. Itu sebabnya, penyedia layanan situs selalu mengingatkan agar pengguna mengganti password atau sandi akun secara berkala.



6. Pastikan link toko online sudah benar

Ketika akan melakukan belanja online, pertama sekali kamu harus memastikan apakah domain situs yang kamu tuju sudah benar. Beberapa website toko online menggunakan domain berbeda. Ada yang memakai domain co.id, com, id dan lainnya. Ini penting untuk kamu ketahui dan cek ulang kebenarannya. 

Penipu kadang membuat website duplikat yang sangat mirip menggunakan nama yang seakan sama namun dengan sedikit perubahan. Penipu berharap kamu masuk kepada situs yang mereka buat khusus untuk jebakan. Ini penting bagi kamu yang suka belanja menggunakan versi desktop. Jika mengunduh aplikasi resmi milik e-commerce di Google Playstore, kamu bisa langsung dibawa kepada link resmi. Tidak perlu takut dengan link toko palsu. 



7. Jangan sekali-kali klik link yang diberikan penjual atau pihak tertentu

Kalau kamu sudah membaca artikel sebelumnya, diketahui bahwa memberikan link baru merupakan salah satu modus penjahat memulai aksi penipuan. Tujuan pemberian link ini adalah untuk mencuri data-data kamu. Pihak yang mengirim link baik di chat toko online, sms atau pun whattshap itu adalah penjual, ya penjahat siber yang menyamar menjadi penjual palsu. Penjual yang bermaksud untuk mengambil alih akun kamu. Jadi, kamu harus tegas. Mau mengatasnamakan penjual atau pihak karyawan toko online sekali pun, dengan alasan apapun jangan pernah mau diajak mengklik link lain. Jangan pernah mengikuti atas nama siapapun. 



8. Simpan informasi kartu kredit ditempat yang aman

Sama seperti menyimpan data akun dan sandi, segala data terkait credit card harus diamankan terlebih dahulu sebelum pertama kali digunakan. Hal ini jangan dianggap enteng. Menyimpan data disembarangan lokasi bisa menjadi peluang orang untuk mencuri. Di era teknologi yang canggih, orang melakukan berbagai cara untuk mengetahui data calon korban. Kalau bisa, batasi penggunaan kartu kredit untuk belanja online. Mayoritas penipuan terjadi karena pemilik kartu terlalu sering memakai kartu bertransaksi sehingga aktifitasnya terbaca oleh oknum tertentu apalagi jika keamanan e-commerce yang dipakai kurang mendukung. 



9. Tidak menyimpan di situs

Beberapa situs pada umumnya menyediakan layanan menyimpan data kartu konsumen untuk memudahkan pembelian selanjutnya. Jika sudah pernah belanja sekali memakai kartu kredit tersebut, pada belanja berikutnya kartu akan terbaca ketika melakukan pembayaran. Kamu tidak hanya perlu memastikan bahwa setiap transaksi yang menggunakan kartu kredit kamu diproses secara aman tetapi juga perlu memastikan bahwa e-commerce tidak menyimpan informasi data kartu kamu. Kalau sudah terlanjur menyimpan data kartu di toko online, untuk kehati-hatian sebaiknya kamu menghapus segera.

 

10.Jangan membagi data kartu kredit dengan alasan apapun

Saat ini, tidak hanya muncul oknum yang berpura-pura menjadi penjual, staf e-commerce tetapi juga sering berpura-pura menjadi pihak bank. Mereka berusaha mengelabui target dengan cara meyakinkan kalau mereka adalah staf perusahaan keuangan. Suara mereka disetting sedemikian rupa, begitu juga dengan nomor telepon dan sandiwara yang digunakan untuk menipu. Ketahuilah, nomor yang dipakai penipu menelpon biasanya berbeda dengan nomor bank. Walaupun semua gerak gerik mereka mirip sekali dengan pihak bank, tetap tidak memberikan data jika diminta. Bank sama sekali tidak pernah meminta data privasi konsumen lho. Jadi, jika ada oknum yang mengaku sebagai bank kamu musti curiga. 



11. Belanja di toko online dengan sistem security software

Perlu diketahui bahwa belum semua toko online yang benar-benar memperhatikan secara serius soal keamanan transaksi menggunakan pembayaran kartu kredit. Masih ada toko online abal-abal atau dengan sistem keamanan seadanya. Putuskanlah hanya belanja di e-commerce dengan keamanan Secure Socket Layer dan 3D Secure. Kalau kamu bingung, bacalah label petunjuk dan ketentuan pembayaran di halaman paling bawah di situs e-commerce. Bisanya tersedia layanan FAG lengkap menjawab kebingungan pembeli.  


10. Sering melakukan cek akun dan e-mail

Pernah ada kejadian penipuan dimana korban baru mengetahui telah terjadi penipuan setelah beberapa hari kemudian ketika kebetulan membuka e-mail. Ada lampiran pembayaran masuk dari pihak bank ke kotak masuknya. Ada juga korban yang rajin membuka e-mail sehingga begitu ada laporan tertentu dia bisa langsung mengetahui. Tidak ada salahnya kamu mengecek e-email yang biasa kamu daftarkan untuk transaksi perbankan maupun untuk mendaftar akun toko online. 


12. Aktifkan notifikasi transaksi

Jika kamu merupakan tipikal yang malas atau sering lupa melakukan cek e-mail, sebaiknya mengaktifkan fitur notifikasi transaksi. Dengan demikian, jika ada transaksi pembayaran atau dana keluar kamu akan mengetahuinya secara cepat. Kecepatan dalam mengetahui transaksi yang tidak wajar sangat penting untuk tindakan pencegahan transaksi berlanjut dan untuk laporan atau pengaduan agar cepat juga diproses pihak toko online maupun bank. 


13. Menggunakan sofware anti virus dan hati-hati malware

Saya yakin belum semua dari konsumen yang tahu bahwa aplikasi anti virus ternyata tidak hanya berguna melindungi data untuk mendeteksi virus yang disebarkan oleh jahat tetapi juga bermanfaat untuk menjaga setiap aktifitas privasi yang kamu lakukan baik penjelajahan di internet, transaksi perbankan, belanja online, mengobrol dan sebagainya. Layanan ini ada yang gratis dan ada yang berbayar dengan sistem tahunan. 



Saya yakin setiap konsumen pasti menginginkan belanja online yang aman dan nyaman,  tidak ada satu pun yang rela menjadi korban penipuan. Jika sudah pernah tertipu mungkin merasakan begitu sulit untuk menerima kenyataan dan sulit menemukan cara mengikhlaskan penipuan yang telah menimpa. Apalagi uang yang hilang tidak pernah kembali dan sulit menemukan pihak yang bertanggungjawab mengganti rugi.


Demikianlah informasi cara mengatasi penipuan belanja online yang intinya dimulai dari melindungi privasi diri sendiri. Apa saja modus yang dipakai penjahat untuk menipu ketika online shopping dan bagaimana cara melaporkannya, kamu bisa membaca artikel berikut :



Subscribe to receive free email updates: