8 Alasan Mengapa Saya Akhirnya Memutuskan Membeli Clodi, No.5 Paling Mengkhawatirkan dan Beresiko



Bayi, Kain, Pakaian, Warna, Warna Warni, Kenyamanan


Clodi merupakan singkatan dari cloth diapers atau pempers kain merupakan salah satu kebutuhan bayi yang sebenarnya bukan lagi hal mewah saat ini. Entah mengapa ketika bercerita soal anak saya yang memakai clodi ini memunculkan kontra bagi sebagian ibu lain. Menurut mereka, sebaiknya tidak usah membeli clodi karena dianggap lebih mahal dan lebih hemat pakai popok kain biasa saja. 


Sebagian lagi juga menyarankan agar tidak usah memasang clodi pada bayi karena ditakutkan menimbulkan iritasi. Kata mereka clodi itu panas bisa bikin pinggul dan organ anak menjadi berkeringat. Bahaya katanya.


Argumen-argumen tersebut sempat membuat saya dalam dilema. Ditambah lagi saya sendiri memiliki stok popok dua tali sebanyak 3 lusin. Artinya kalau ingin membeli clodi berarti popok tersebut akan disimpan lagi dan menjadi tidak terpakai. Padahal baru beberapa bulan digunakan.


Terakhir ada juga yang beranggapan miring kalau memberi anak pempers buat sehari-hari di rumah saja merupakan tanda pemborosan dan malas. Sebelum ada pempers, bukankah para ibu terbiasa dengan popok biasa? Mengapa ibu sekarang tidak bisa? Begitulah kira-kira alasannya.


Terlepas dari kontra yang ada, sejak menginjak usia 3 bulan popok 2 tali rasanya sudah kurang efektif bagi bayi saya. Oleh karena itu, saya akhirnya membulatkan niat secara berangsur-angsur membeli clodi. Sejauh ini saya sudah memiliki 16 cover dan 21 insert. Mengapa saya merasa popok dua tali terasa kurang efektif dan memutuskan membeli clodi?


1. Saya mulai kesulitan dan susah tiap mengganti karena anak sudah mulai tengkurap, merambat dan merangkak. 


Pas mau ganti si bayi tetap aktif bergerak, seperti tidak mau diganggu. Sampai seperti main kejar kejaran. Setiap dia pipis dan saya mau ganti popok dua tali, dia langsung membalikkan badan. Bahkan sampai dua tiga kali mencoba baru berhasil memasang popoknya. Kalau saat baru lahir dan sebelum pandai tengkurap, bayi menghabiskan waktu telentang saja sehingga mudah diganti popok talinya.


2. Popok dua tali sudah tidak maksimal.

Saya sudah membelikan bayi saya popok dua tali yang lebih tebal dan saking tebalnya dulu pas awal lahir tidak ketahuan kalau dia lagi pipis. Karena air pipisnya tidak merembes. Tapi semakin tambah usianya, popok dua tali yang termasuk tebal tersebut mulai bocor bahkan dipakai dua lapis pun tetap merembes. Alhasil tikar, springbed dan lantai pada basah semua. Konsekuensinya harus sering membersihkan lantai, melap tikar dan mencuci seprai. Kalau tidak bau pesing menyebar dimana-mana. 


Bertambah usia anak aroma pipis pun berubah, bertambah bau, tambah banyak dan warna tambah pekat. Sebagai ibu rumah tangga yang tidak memakai jasa asisten rumah tangga, tenaga dan waktu begitu terbatas untuk membersihkan semua yang telah kena cipratan pipis. Kadang saya baru saja membersihkan pipis yang tergenang di lantai, si dedek sudah pipis lagi di atas kasur santai. Belum lagi butuh waktu mengerjakan pekerjaan rumah lain.


3.  Harus banyak stok pakaian ganti

Nah, yang kadang menjadi masalah adalah kalau si dedek lagi tengkurap, rembesan pipis bisa membasahi baju dan singletnya. Selama siang hari saat dia aktif kesana kemari, saya harus mengganti baju dan singlet beberapa kali. Bahkan bisa dikatakan setiap pipis tidak hanya ganti celana tapi juga kaos dalam dan baju.


4. Jumlah cucian menumpuk drastis saat memakai popok dua tali

Klo pakai popok dua tali harus diganti tiap kali pipis. Bisa puluhan kali dalam sehari. Jumlah cucian pun menumpuk drastis. Apalagi kalau lagi badan kurang fit, keranjang kain kotor menjadi menggunung. Popok yang sudah terlanjur direndam berhari-hari karena belum sempat mencuci mengeluarkan bau tidak sedap. Apalagi yang belum direndam, yang baru ditaruh di keranjang baju kotor bisa mengundang datangnya bakteri. 


5. Resiko anak sering terjatuh. 

Dari semua alasan di atas, hal yang paling membuat khawatir adalah saat bayi tergelincir. Pakai popok biasa membuat air pipis tergenang di lantai. Bayi suka main air tak terkecuali memegang air pipis karena dia masih belum paham. Terlambat sedikit saja mengepel dan mengeringkan lantai, bayi bisa terjatuh karena licin. Rasanya tidak mau ambil resiko untuk hal ini.


6. Pempers sekali pakai kurang ramah kantong. 


Kalau tidak memakai clodi atau hanya membeli pempers sekali pakai alias pospak terasa boros banget. Boros uang, waktu, tenaga dan air. Dalam sehari bayi saya rata-rata membutuhkan 5 popok, dalam sebulan 150 popok dan setahun menjadi 1.800 popok. Harga pempers sekali pakai (pospak) sachet atau eceran memang terkesan murah hanya Rp 2.500 per pcs tapi coba dikalikan jika dipakai dalam 1 tahun. Saya menghabiskan uang Rp.4.500.000 per tahun untuk membeli pempers sekali pakai. 


Memang akan sedikit lebih hemat membeli pempers sekali pakai dalam jumlah banyak tapi jika dikalikan selisihnya tidaklah seberapa. Sayang saja rasanya, uang tersebut menurut saya bisa digunakan untuk hal lain. Jadi, saya hanya membeli sekali-sekali disaat tertentu saja.


Sementara itu, harga satu set clodi memang terlihat lebih mahal. Pas saya bilang saya membeli clodi impor seharga 60 ribu/set atau clodi lokal seharga 35.000/set ada ibu-ibu yang kaget. Apalagi ketika saya tahu total uang yang saya habiskan membeli clodi hampir 1 juta. Padahal jumlah ini tergolong rendah jika dibandingkan dengan total biaya memakai pempers sekali pakai pertahun yang menyentuh angka Rp.4,5 juta.


Modal membeli clodi terkesan mahal karena saya mengusahakan membelinya di awal agar 95 % berhenti memakai pempers sekali pakai. Uang yang dihabiskan langsung besar padahal hanya perlu sekali membeli stok clodi. Kalau sudah punya stok, tinggal cuci dan dipakai berulang. Ini sebenarnya jauh lebih hemat. Saya memakai pospak hanya ketika lagi kepepet misalnya clodi tidak ada yang kering atau dalam perjalanan jauh.


Sisi lain yang membuat saya kurang sreg memakaikan pempers sekali pakai pada anak adalah pada waktu membersihkannya. Rasanya ada beban moral jika langsung membuang  pempers sekali pakai yang kena pipis atau pup ke tempat sampah tanpa dibersihkan. Etika memakai pempers sekali pakai memang harus dibersihkan baru dibuang. Nah, saya merasa membersihkan pempers sekali pakai sangat tidak efisien karena sudah capek-capek dibersihkan ujung-ujungnya tetap dibuang. Rugi saja. Belum lagi menghabiskan banyak air dan dilema membuang gelnya. Makin disiram, gel-gel pempers makin menggelembung. Pernah membuat closet mampet. Beda dengan clodi, setelah dibersihkan bisa dijemur dan dipakai kembali.


7. Anak dan ibu bisa istirahat lebih tenang pada malam hari. 


Bayi yang memakai popok dua tali biasanya akan terbangun setiap kali pipis. Hal ini karena basah, si bayi jadi kurang nyaman dan juga kedinginan. Semakin sering bayi pipis, artinya semakin sering bayi terbangun dan secara tidak langsung tidurnya terganggu. Sang ibu pun menjadi kurang istirahat dan tidur tidak nyenyak. Bagi ibu baru seperti saya yang tidak biasa bergadang, keadaan tersebut seringkali membuat badan kurang fit dan sakit.Jika memakai popok bayi dapat tidur sedikit lebih nyenyak, hanya perlu mengganti 1-2  kali sepanjang malam hingga subuh. Begitu juga dengan ibunya. Dengan istirahat yang cukup, esok hari si ibu bisa bangun lebih fit untuk merawat bayinya.


8. Punya waktu untuk melakukan hal lain yang lebih penting. 


Saya kurang setuju jika dianggap ibu malas hanya karena anak saya memakai clodi terus ibu zaman dahulu dianggap lebih rajin karena sabar membersihkan rembesan pipis anak. Ibu zaman sekarang tidak bisa dibandingkan dengan ibu zaman dulu. Pada zaman dahulu para ibu memang hanya memakaikan popok dua tali dan celana biasa karena saat itu belum dikenal fungsi pempers. 


Bagi saya sendiri pempers kain sangat membantu hemat waktu. Waktu yang dihabiskan karena sering ganti popok tali menjadi jauh berkurang lantaran memakai clodi. Daripada menggunakan banyak waktu untuk sering ganti popok bayi, bukankah lebih baik waktu tersebut digunakan untuk hal lain yang tidak kalah besar manfaatnya. 


Terakhir, apakah saya akan selamanya memasangkan clodi pada anak?



Tentu saja tidak, hal ini hanya untuk sementara sampai anak cukup usia untuk belajar buang air sendiri. Memakaikan clodi pada bayi dalam jangka waktu lama juga tidak bagus buat perkembangan, bayi menjadi terbiasa pipis di celana atau popok. Bisa-bisa bayi terlambat paham soal pipis.

Mau memakai pempers sekali pakai atau pospak, clodi atau pempers kain maupun memakai popok kain dua tali merupakan sepenuhnya hak orang tua. Di atas adalah pandangan saya secara subyektif sesuai dengan kondisi dan situasi serta kebutuhan. 

Bagaimanapun clodi dan pempers sekali pakai memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri. Tinggal orang tua yang menentukan mana yang cocok. 


Subscribe to receive free email updates: